Keluarga Sakinah (3)

 A-Z Pernikahan

keluarga sakinah

5 PRINSIP PEMBENTUKAN KELUARGA SAKINAH

Dalam rangka membentuk keluarga sakinah, ada beberapa hal prinsip yang harus diperhatikan. Diatas prinsip-prinsip inilah rumah tangga Islami didirikan :

1. Pernikahan pada dasarnya adalah menjalani tugas-tugas perkembangan, bukan hanya sekedar tugas pertumbuhan. Artinya menikah bukan sekedar seperti kawinnya binatang yang hanya menjalani tugas pertumbuhan, artinya kemampuan biologis sebagai ukuran kesiapan. Binatang hanya butuh reproduksi, tanpa pertimbangan regenerasi.

Oleh karena itu dalam Islam, menikah disyariatkan bagi yang sudah mampu, bukan yang sudah mau. Jadi kalau kita sudah mau menikah itu adalah dorongan pertumbuhan, sedangkan kalau kita mampu menerima segala konsekuensi dari pernikahan, itu artinya adalah dorongan perkembangan.

Lihat hadist berikut ini : “ Hai para pemuda, barangsiapa yang telah sanggup diantara kamu menikah, maka hendaklah menikah. Maka sesungguhnya menikah itu menghalangi pandangan (kepada yang dilarang) dan memelihara kehormatan. Dan barangsiapa yang belum mampu (masih mau!), hendaklah ia berpuasa maka sesungguhnya puasa itu adalah perisai baginya” (HR. Bukhori dan Muslim) 

 

2. Berkeluarga itu sebagai keberanian seseorang membenturkan idealisme dalam realitas. Sebelum menikah kita mungkin mempunyai teori-teori, konsep, idealisme, minimal bayangan tentang keharmonisan rumah tangga. Setelah menikah belum tentu kenyataan yang kita dapati seperti yang kita bayangkan sebelumnya. Puas atau kecewanya seseorang dalam pernikahan  lebih ditentukan oleh sikap atau pandangannya terhadap pernikahan itu sendiri.

Ada dua pandangan terhadap pernikahan, yang bisa diilustrasikan sebagai pandangan seorang petualang dan seorang wisatawan yang hendak pergi ke puncak gunung. Ketika pergi ke gunung, seorang petualang tidak akan terpukau dan tertipu oleh fatamorgana indahnya gunung yang didaki. Sebelum berangkat yang dipersiapkan adalah perbekalan untuk menghadapi kesulitan-kesulitan dan rintangan-rintangan yang akan ditemui dijalan. Kebahagiaan, kepuasaan, kebanggaan bukan terletak pada tempat-tempat yang enak, tetapi justru ketika menemukan tempat-tempat yang sulit, terjal, penuh rintangan dan  tantangan. Tantangan dan rintangan bukan untuk dihindari, tetapi untuk disikapi dan dipecahkan. Kebahagiaan dan kebanggaan bukan ketika tidak ada masalah, tetapi ketika mampu mengatasi setiap masalah yang dihadapi, karena dengan adanya masalah-masalah dalam kehidupan keluarga akan menjadikan jembatan menuju kedewasaan pikiran dan sikap.

Demikianlah perumpamaan kehidupan rumah tangga bagi seorang petualang. Sedangkan bagi wisatawan ketenangan, kedamaian, keindahan,kenyamanan, kemesraan, dll, adalah impian mereka. Padahal gunung yang didatangi pada kenyataannya tidak seindah seperti ketika masih dibayangan dan dilihat dari jarak jauh. Banyak orang yang menikah dengan pandangan seperti itu, sehingga akhirnya yang didapat adalah kekecewaan dan penyesalan.

 

3. Berkeluarga adalah saat berubahnya orientasi dari menuntut hak menjadi melaksanakan kewajiban. Saya meyakini bahwa setelah berkeluarga seseorang harus tahu kewajibannya, baik suami terhadap istri, istri terhadap suami, terhadap orang tua dan mertua, terhadap ipar, dan kerabat lainnya.

 

4. Berkeluarga adalah saat seseorang menyempurnakan makna beragama. Menikah menjadikan sempurnanya  separoh agama.

” Bila seseorang telah melangsungkan pernikahan, maka sungguh telah sempurna separoh dari agamanya, maka hendaklah bertaqwa untuk setengah dari sisanya.”(HR. Baihaqi).

Karena menikah itu begitu penting posisi dan porsinya dalam Islam, maka menikah adalah cara hidup para rasul. Sesuai dengan hadist berikut :

“Nikah adalah sunahku, siapa yang tidak senang dengan sunahku, maka ia bukan termasuk golonganku.”  (HR. Bukhari). 

Dengan niat menikah untuk menyempurnakan agamanya, maka siapa yang melaksanakan akan ditolong Allah berdasar dalil hadist :

”Tiga kelompok yang semuanya menjadi kewajiban Allah untuk menolongnya, yaitu orang yang berjihad di jalan Allah, orang yang menikah untuk menjaga diri dari dosa, dan orang yang punya hutang dan bermaksud membayarnya.” (HR. Hakim).

 

5. Menikah pada dasarnya berorganisasi, atau berjamaah. Organisasi biasanya dibentuk untuk mencapai tujuan yang telah digariskan bersama, dengan kerjasama. Dalam organisasi harus ditegakkan prinsip the right man on the right place, dengan menempatkan orang pada tempat yang pas dengan pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas. Begitu juga dalam membentuk rumah tangga  yang Islami, sejak awal harus ada kejelasan tentang tujuan hidup berkeluarga, dan tentunya bagaimana cara mencapai tujuan-tujuan yang telah disepakati untuk menggapai keluarga sakinah.

 

Author: 

No Responses

Leave a Reply